A great WordPress.com site

Archive for Juni, 2013

FAN FICTION COUPLE L(OV)E : WAITING YOU

image

Suara riak jam beker memaksa Halya untuk segera mengakhiri petualangannya di alam mimpi. Dua mata yang masih tertutup itu dibukanya perlahan, pandangannya blur, ia harus mengerjapkan kedua matanya berkali-kali untuk mendapatkan pandangan yang fokus. Halya meraih benda bising yang memekakan telinga itu, ia segera menekan tombol merah bertuliskan off dengan telunjuk kanannya. Halya membangunkan tubuh yang masih lemas, akibat aktivitas padat yang sudah dilaluinya kemarin. Dua bola mata milik Halya segera tertuju pada laci kedua dihadapannya, ia segera membuka laci dan langsung meraih amplop berwarna pink yang terlihat manis. Dengan cekatan Halya segera membuka dan membaca isi surat yang ada didalam amplop tersebut.

 

24 Desember 2009

Perth. Kamu tahu, orang bilang kota ini sangat  cantik. Tapi, selama aku berada disini, aku tak menemukan satu hal pun yang lebih cantik daripada kamu. Aku juga kangen sandwich buatan kamu, Al. Besok aku pulang, aku mau melukis langit bersamamu lagi, temui aku di taman kota.

P.S : Tunggu kejutan dariku 🙂

 

kangen kamu, Al

 

Gilang

 

Sebuah senyuman membingkai wajah Halya, ia segera menyimpan surat yang telah dibacanya di atas meja rias. Hati yang menggebu dan tak sabar ingin menemui pujaan hati amat dirasakannya saat ini.

***

           Kedua kaki yang menopang tubuh kecil, mengantarkan pemiliknya untuk segera menghampiri pohon besar yang bediri kokoh di tengah taman. Halya tampak berbeda hari ini, dress putih sebatas lutut dan cardigan merah muda membalut tubuh mungilnya, tak lupa warna-warna natural eye shadow, lipstik, dan perona pipi, ia goreskan pada wajah yang terlihat semakin cantik itu. “Ini hari spesial, semoga Gilang mau menemuiku hari ini” ucap Halya sembari mendudukan tubuhnya diatas permadani hijau yang terbentang. Halya kembali mengingat kisahnya bersama Gilang di tempat ini, kenangan indah yang takkan terlupakan baginya. Sebuah pengakuan cinta yang pernah dilontarkan Gilang untuk Halya. Gadis itu masih mengingat sentuhan tangan lembut yang saling mengikat satu sama lain. “I love you, Al”. Ia juga masih mengingat kalimat yang terucap dari bibir Gilang saat itu, kalimat yang mampu menggelitik hatinya, kalimat yang mampu membuat kedua pipinya memanas dan tampak bersemu merah. Sebuah senyuman terukir di wajah lonjongnya, Halya segera mengintip isi tas coklat dipangkuannya, memastikan kotak makan berisi sandwich yang sudah dibuatnya tadi pagi tidak rusak dan masih terlihat cantik, ia sengaja membuat makanan ini untuk Gilang, bukankah lelaki itu mengatakan bahwa dia merindukan sandwich buatannya. Halya segera mengambil amplop berwarna pink. Entah berapa ratus kali Halya sudah membaca surat yang dikirim Gilang. Kalimat yang tertulis seakan menjadi obat kerinduannya untuk Gilang.

“AL…” teriakan itu sedikit mengagetkan Halya, ia menolehkan kepalanya kearah suara yang baru saja didengarnya. Raka, tak salah lagi, tubuh jangkungnya itu sangat dikenali Halya. Wujudnya yang terlihat semakin jelas pertanda bahwa jarak lelaki itu semakin dekat pada Halya. “Al, udah aku duga kamu pasti bakal kesini” ucap Raka. Halya kembali memutar kepalanya seperti semula, ia tampak tak mepedulikan Raka. “Al, udah berapa kali aku bilang sama kamu, lupain Gilang” sedikit ada penekanan dalam ucapan yang baru saja Raka lontarkan. “Jadi, kamu kesini cuma mau ngomong gitu doang, Ka?” Halya tampak tak menatap Raka “Sampai kapan, Al, kamu mau kayak gini terus” Raka membanting koran kehadapan Halya “Sampai kapan kamu juga mau berhenti ngelarang aku untuk melakukan hal bodoh ini, hah?” sentak Halya. Raka segera mengambil koran yang sempat dibantingnya dan membaca dengan suara lantang “Pesawat Air-300 dengan tujuan Australia Indonesia, ditemukan jatuh di perbatasan laut Indonesia dan Australia, tak ditemukan korban yang selamat, selanjutnya…” Halya berteriak dengan kedua tangan yang masih menutup telinga “CUKUPP, KA. Aku udah denger kamu baca kalimat itu ratusan kali” “Al, Gilang itu udah mati, 4 tahun lalu, dia gak bakal datang kesini lagi” “Gilang belum mati, pergi kamu, jangan rusak hubunganku dengan Gilang, pergi….” Halya mendorong tubuh Raka yang hampir terjatuh. Lelaki itu menatap Halya iba, entah usaha apalagi yang harus ia lakukan untuk menyadarkan sahabatnya yang satu ini. Raka pergi meninggalkan Halya.

 

25 Desember 2013

Lang, udah 4 tahun aku nunggu kamu. Aku akan selalu mengunjungi tempat ini, sampai kamu datang, aku masih menunggu kejutan yang kamu janjikan. Lang, aku juga kangen kamu. I LOVE YOU

 

Halya menyobek kertas yang sudah ditulisnya lalu melipatnya menyerupai bentuk pesawat, dan menerbangkannya bersama angin. “I’ll be waiting for you, Gilang” ucap Halya, dengan tangis yang membanjiri kedua pipinya.


RESENSI NOVEL COUPLE L(OV)E

image

JUDUL    : Couple L(ov)e
PENULIS : Rhein Fathia
PENERBIT : Bentang Pustaka
DIMENSI : 13,5 cm X 20,5 cm
TEBAL    : 388 halaman

“Nggak hanya cinta, Al. aku pernah baca sebuah penelitian bahwa cinta yang menggebu itu hanya bertahan selama dua tahun dalam pernikahan. Selebihnya, tanggung jawab dan komitmen. Kamu kira, kakek-nenek yang zaman dulu awalnya menikah karena dijodohkan, lalu bisa langgeng puluhan tahun, itu hanya berdasar pada cinta? Nggak, Al. Ada fondasi lain yang lebih kuat daripada itu untuk pernikahan”
      Semua orang menganggap bahwa pernikahan harus dilandasi dengan cinta dan kasih yang tulus. Namun tidak bagi Halya dan Raka, sepasang sahabat ini justru memutuskan untuk membina ikatan pernikahan tanpa cinta.     Berbagai masalah dan konflik kerap kali menghadang bahtera rumah tangga Halya dan Raka, entah itu konflik yang mereka ciptakan sendiri atau konflik yang datang dari orang-orang di sekitar mereka. Belum lagi cinta masa lalu yang  datang membayang sepasang pengantin ini. Rina, wanita yang pernah dicintai Raka, kembali hadir dalam hidupnya setelah menjalani pernikahan dengan Halya. Raka memang tak pandai untuk membohongi hati kecilnya, ia masih menyimpan rasa itu, rasa cinta pada Rina yang pernah hinggap dalam hatinya. Lain halnya dengan Halya, meskipun Gilang takkan pernah hadir lagi dalam hidupnya, namun wanita ini masih mengenang rasa cintanya terhadap Gilang, kenangan yang masih tersimpan dalam hatinya, selalu teringat dalam bayang semu yang ia sadari takkan bisa terulang. Berbagai ujian yang datang, mereka coba hadapi bersama, dengan dukungan dan saling percaya, Halya dan Raka yakin bahwa Tuhan akan menuntun mereka pada sebuah akhir kisah yang telah direncanakan-Nya.
      Novel Couple L(ov)e karya Rhein Fathia ini sukses memberi sugesti kepada pembaca bahwa kadar cinta dan persahabatan itu nyaris tak berbeda. Disajikan dengan alur maju mundur, dimana penulis menceritakan keadaan Halya dan Raka di masa lalu untuk menjelaskan alasan kedua sahabat ini menjalin sebuah pernikahan tanpa ikatan cinta, dan konflik tak berujung  yang masih terus berlanjut hingga saat ini. Rhein Fathia pandai sekali memainkan emosi para pembaca dan cukup apik dalam menyusun alur cerita. Dibubuhi dengan penokohan yang cukup sempurna antara Raka dan Halya, sebuah kontras yang sangat unik dan menarik, Raka dengan sifatnya yang disiplin, romantis, bertanggung jawab, dan taktis, sedangkan Halya dengan wataknya yang pendiam, santai, dan pemalu, menghadirkan sebuah kesan tersendiri bagi para pembaca.
Kelebihan dari novel Couple L(ov)e ini terlihat dari segi cerita yang cukup berbeda dengan novel romance lainnya. Dengan gaya tulisan yang khas, para pembaca juga  diajak untuk memposisikan diri sebagai tokoh dalam novel tersebut. Dikemas dengan cover yang unik dan full colour, serta tata letak halaman yang cukup berbeda pada buku umumnya, semakin mempercantik dan memperindah novel yang satu ini.
      Nyaris tak ditemukan kekurangan dalam novel ini, hanya saja di halaman 385 saya sempat menemukan kutipan percakapan yang sedikit mengganjal “Kamu hanya boleh bawa satu note block. Aku nggak terima kalau kamu duakan dengan buku” mungkin seharusnya penulis membubuhkan kata ‘aku’ setelah kata duakan, agar pembaca bisa mengetahui dengan jelas siapakah yang sebenarnya tidak ingin diduakan “Kamu hanya boleh bawa satu note block. Aku nggak terima kalau kamu duakan aku dengan buku”. Selain itu halaman untuk batas per-part saya rasa terlalu polos dibagian bawah, mungkin akan lebih bagus jika dibubuhi quote-quote penulis atau kutipan yang menarik di setiap bab.
      Couple L(ov)e sangat di rekomendasikan untuk para pecinta novel bergenre romance, karena  tanpa sadar penulis mengajak para pembaca untuk terbang dan menyelami samudera langit dengan hal-hal romantis dan penuh cinta. Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dalam novel ini sepeti pentingnya saling memahami, ketulusan, kepercayaan, dan sebuah keyakinan. Buku ini juga mengajarkan arti sebenarnya dari sebuah komitmen dan kekuatan persahabatan. Saya memberikan 4 bintang, dari lima bintang untuk novel Couple L(ov)e karya Rhein Fathia.

Kau tahu, kenapa orang menikah selalu mendapat ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru”?
Karena mereka harus meninggalkan orang-orang yang pernah mereka cintai di masa lalu.